Matahari sudah tigaperempat melintasi siang saat saya tiba di Lamin Pepas Eheng. Aspal mulus dan jalanan sepi dari kota Sendawar, ibukota Kutai Barat, menjadikan perjalanan sejauh 35 km hanya ditempuh sekitar 45 menit. Tak terasa. Kehadiran saya di Lamin Pepas Eheng ini adalah di sela pelaksanaan survey sarana prasana sekolah dan kesehatan Kab. Kutai Barat. Jadwal begitu padat sehingga saya harus pintar-pintar mencari waktu untuk bisa mengulik jantung tradisi orang Dayak. “Mosok ke Kutai Barat tidak mampir ke Lamin.”
Dua orang renta yang duduk di pintu utama menyambut saya saat menapaki tangga Lamin. Saya rasa mereka adalah sepasang suami istri. Saya sapa mereka, tapi tak ada balasan. Apakah mereka tak nyaman dengan saya? Apakah saya kurang sopan? Begitu pikir saya karena saya baru pertama kali berkunjung ke rumah khas Dayak ini. Hanya ada tatapan penuh keheranan dari mereka. Saya juga heran yang bercampur dengan takut. Takut tak diterima.
“Silakan masuk.” Kali ini akhirnya saya mendapat sapaan ramah perempuan muda dari dalam Lamin.
“Bapak ibu ini tidak bisa berbahasa Indonesia. Biasanya kalau tamu datang, mereka hanya lihat seperti orang heran saja. Tapi, mereka ramah kok.” ungkap Lenga (30 tahun), perempuan itu.
Saya kemudian diajak Lenga ke satu lokasi di ruangan Lamin. Tepat di depan kamar dia dan keluarganya, kami duduk di atas tikar rotan yang sudah dihamparkan. Di situ, Lena, putrinya yang baru berusia 3,5 tahun baru saja bangun dari tidurnya gara-gara kami datang. Dia langsung mendekap ke ibunya. Untungnya, kedatangan kami tak membuatnya menangis. Bapak Lenga, Sungan, keluar dari bilik kamar menyambut saya lalu bergabung dengan kami.
Tak berapa lama, Lenga sejenak masuk ke dalam kamar. Dia mengambil beberapa kerajinan tangan khas Dayak. Ada aneka gelang rotan, kalung manik-manik dari biji bataka, tas rotan khas Dayak yang disebut anjat, gelas berbahan kayu pasak bumi dan berbagai kerajinan lainnya. Kerajinan-kerajinan ini dibuat oleh Lenga dan keluarganya. Biasanya, kaum pria pergi bekerja di hutan, ladang, sedangkan kaum wanita menunggui lamin sembari membuat kerajinan.
Tapi, kerajinan yang paling memantik perhatian saya adalah mandau, senjata khas Dayak. Mandau ini sangat indah, terbuat dari besi pilihan, bergagang kayu limau berukiran indah dan bersarung kayu gelunggang. Terdapat juga hiasan bulu burung yang makin mempercantik mandau. Saya tertarik bertanya harga mandau. Ahaa.. Harganya 1,3 juta. Wow. Saya pun mundur teratur dan hanya memegangi mandau yang kental dengan aura keberanian dan kegagahan orang Dayak.